Makna dan Riset Penelitian

Makna dan Riset Penelitian1. Beragam lstilah

Penelitian keperawatan (nursing research) dibangun dari dua kata, yaitu penelitian (research) dan keperawatan (nursing). Kata atau istilah penelitian di sini merupakan terjemahan dari reseach, dalam bahasa Inggris. Banyak ahli atau pengarang mengindonesiakan kata research menjadi riset. Kata penelitian dan riset mempunyai makna yang sama dan selalu dapat dipertukarkan. Meski begitu adakalanya secara rasa bahasa, kata riset lebih enak didengar. Di Indonesia, misalnya, kita kenal Riset Unggulan Terpadu (RUT), Dewan Riset Nasional (DRN), Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menneg Ristek), Riset Unggulan Kemitraan (RUK). Akan tetapi, di Indonesia juga kita kenal penelitian Terapan Kelas (PTK), Penelitian Terapan, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), Penelitian dan Pengembangan (P&P), dan lainnya.

Kata lain yang sering dipertukarkan dengan riset atau penelitian adalah studi (study) dan investigasi (investigation). Frasa “studi tentang” atau “penelitian tentang” sering kali kita baca, demikian juga “peneliti” atau “periset” pada kasus-kasus tertentu sering disebut sebagai ingradual dengan kata penelitian atau riset. Kata “studi atau investigasi”, tampaknya lebih cocok dipakai pada peristiwa kerja penelitian di tingkat praktik di Iapangan; sedangkan kata penelitian atau riset menggambarkan keseluruhan proses kegiatan tersebut..

2. Makna Etimologis

Secara etimologis research berasal dari dua kata, yaitu re dan search. Re berarti kembali atau berulang-ulang dan search berarti mencari, menjelajahi, atau menemukan makna. Dengan demikian penelitian atau riset berarti mencari, menjelajahi, atau menemukan makna kembali secara berulang-ulang. Peneliti sering kali melakukan kegiatan penelitian secara berulang-ulang untuk mcmbangun sebuah hukum, dalil, generalisasi, memvalidasi, atau menguji teori yang sudah ada. Perbuatan semacam ini dilakukan secara siklis dan progresif. Inilah sifat menonjol dari kerja penelitian, termasuk pendirian di bidang keperawatan.

Pernyataan “menemukan makna kembali” mengandung konotasi bahwa penelitian itu bersifat ex-post facto, yaitu membedah, mengangkat, atau merekonstruksi fenomena yang sudah ada yang selama ini masih tersembunyi. Padahal teramat sering penelitian dilakukan untuk menemukan atau membentuk realitas baru, misalnya dilakukan melalui penelitian eksperimental. Tentu saja ada benarnya pemikiran penelitian ex-post facto karena walaupun penelitian itu bersifat eksperimental, fakta itu memang sudah ada di balik tabir atau fakta potensial. Fakta itu baru terungkap setelah dilakukan melalui satu atau beberapa perlakuan.

3. Beberapa Pertanyaan

Merujuk pada uraian di atas, akar makna kata penelitian adalah pencarian kembali (search again) melalui pemeriksaan secara hati-hati (examine carefully) satu atau multifenomena yang terpisah (mutually exlusive) atau bertautan erat (mutualy inclusive), seperti fenomena korelasional. Lebih khusus lagi penelitian bermakna pencarian atau investigasi secara sisreniauk dan cerdas unruk menvalidasi dan menyuling (validate and

iflne) pengetahuan yang ada (existing knowledge) dan membangun pengetahuan baru. Burns dan Grove (1993) menulis “More specsfical research is diigen6 systematic inquiry or investigahon to validate and refine existing knowledge and generate new knowledge. Konsep sistematik din cerdas adalah kritis bagi pelaksanaan penelltian karena istilah iti mengandung unsur-unsur perencnaan, pengorganisasian, dan persistensi. Pencarian yang sistematik dan cerdas adalah keharusan bagi peneliti karena hal itu memoros langsung pada pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.

a. Apa yang perlu diketahui?

b. Metode-metode penelitian apa yang digunakan untuk membangun pengetahuan?

c. Metode-metode pengukuran apa yang akan digunakan?

d. Dapatkah elemen-elemen lain dicegah pengaruhnya terhadap elemen-elemen lain yang diukur?

e. Makna apa yang dapat diekstraksi dari pengukuran itu?

Aktivitas penelitian dilaksanakan pada setiap disiplin ilmu, dengan pendekatan tunggal atau multidisiplin. Pertanyaannya adalah “Apakah metodologi penelitian keperawatan diadopsi atau diangkat dari metode penelitian pada umumnya? Apakah penelitian keperawatan merupakan aplikasi disiplin ilmu penelitian ke dalam dunia keperawatan’” Lebih khusus lagi, “Apa perbedaan antara penelitian keperawatan dengan disiplin ilmu atau penelitian di bidang ilmu lainnya?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas sering diperdebatkan oleh pakar keperawatan, mahasiswa keperawatan, atau juru rawat dan anggota disiplin ilmu lainnya. Memang, pada beberapa metode atau cara kerja, tidak ada perbedaan antara penelitian keperawatan dengan penelitian pada disiplin ilmu lainnya. Mengapa? Oleh karena pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam penelitian keperawatan tidak berbeda dengan disiplin lainnya. Meski demikian, dilihat dari dimensi lain, terdapat perbedaan di antara keduanya.

4. Perspektif Filosofis

Penelitian pada banyak disiplin ilmu harus konsisten dengan orientasi filosofi (philosophical orientation) dan teori-teori yang mendasarinya. Penelitian kependidikan harus konsisten dengan orientasi filsafat dan teori-reori kependidikan. Penelitian hukum harus konsisten dengan orientasi filsafat dan teori-teori hukum. Demikian juga penelitian di bidang ekonomi, sosiologi, psikologi, dan Iainnya harus sesuai dengan basis filosofis dan teori-teori yang mendasarinya. Mengikuti logika ini, orientasi penelitian keperawatan harus merujuk pada teori-teori dan batang tubuh pengetahuan penelitian dan ilmu keperawatan yang ada. Inilah yang menjadi pijakan untuk mengidenifikasi kesenjangan dasar teoritis dan pengetahuan keperawatan dengan praktiknya sehari-hari dan menentukan apa yang ingin diketahui.

Fokus batang tubuh pengetahuan keperawatan adalah unik. Fokus dimaksud antara lain meliputi respons-respons pribadi secara holistik pada kesehatan dan kesakitan (health and illness), seperti bagaimana pribadi atau individu berinteraksi dengan lingkungan yang terus berubah. Tindakan-tindakan keperawatan (nursing acts) diimplementasikan untuk mendorong perbaikan kesehatan pribadi atau kesembuhan pasien secara holistik dan menfasilitasi pertumbuhan pribadi atau individu tersebut sesuai dengan potensinya di dalam berinteraksi dengan lingkungan.

Dilihat dari perspektif holistik, aksentuasi sebuah sistem akan menjadi lebih besar atau Iebih kuat daripada penjumlahan aras bagian-bagiannya. Konsep ini adalah sebuah ide penting dari sudut pandang kepentingan peneliti (researcher’s point of view) dalam pelaksanaan penelitian. Teori sistem menggariskan sebuah tesis bahwa energi keseluruhan dari sebuah sistem selalu Iebih besar dari penjumlahan energi yang dimiliki oleh bagian-bagiannya. Mengkaji sebuah sistem dari satu per satu atas bagian-bagiannya tidak akan pernah secara lengkap mampu menjelaskan keseluruhan dari sistem itu. Dalam kata-kata Burns dan Grove (1993) disebutkan, “The whole if always greater then the part being studied and that part can never completely explain the whole”. Karenanya, studi-studi keperawatan umumnya bersifat kompleks, rumit, mengaitkan hubungan antarvariabel, dan multidimensional.

Tentu tidak menutup kemungkinan bagi peneliti untuk menelaah satu fenomena dari satu sudut pandang. Misalnya, mutu Iayanan keperawatan dilihat dari salah satu sisi seperti fasilitas fisik, keramahan perawat, akurasi layanan, kecepatan Iayanan, dan garansi Iayanan. Namun demikian, peneliti akan sulit membuat kesimpulan yang memadai saat hanya melihat mutu layanan keperawatan dari satu sudut pandang yang sempit , kecuali bila itu tujuannya.

Variabel berganda (multiple variable) umumnya harus dipelajari secara simultan, menuntut analisis statistik yang kompleks. Menurut Stevensen (1988), perspektif holistik juga memandu interpretasi temuan-temuan penelitian. Terminologi holistik mengandung makna bahwa penelaahan atas satu fenomena akan sangat sulit dilihat dari sudut pandang tunggal. Dengan demikian, pendekatan holistik ini akan sangat bermanfaat untuk menelaskan satu fenomena karena fenomena itu dilihat dari berbagai perspektif.

Pendefinisian pendirian keperawatan juga menuntut pemeriksaan dari sudut pandang yang berbeda mengenai pengetahuan keperawatan yang relevan. Satu sudut pandang adalah bahwa penelitian-penelitian keperawatan harus dibatasi hanya untuk studi-studi yang membangun pengetahuan (generate knowledge) yang secara khusus bermaslahat bagi praktik-praktik klinis (clinical pratices). Pandangan ini dianut secara fanatik (strongy supported) pada tahun 1980-an dan terus berdampak pada orientasi penelitian keperawatan pada tahun 1990-an.

Pandangan ini secara gamblang tertuang dalam American Nurse Association (1981), yang mendefinisikan penelitian keperawatan sebagai pengembangan pengetahuan tentang kesehatan dan kemajuan kesehatan di dalam keseluruhan rentang kehidupan (promotion of health over the full lifespan), merawat atau memelihara orang-orang yang mengalami masalah kesehatan dan ketidakmampuan, baik fisik maupun psikologis. Tindakan keperawatan ditujukan untuk meningkatkan kemampuan individual dalam merespons masalah kesehatan yang potensial atau aktual secara efektif.

Pandangan lain mengatakan bahwa penelitian keperawatan mencakup studi-studi tentang pendidikan keperawatan, administrasi keperawatan pelayanan kesehatan karakteristik perawat, peranan perawat dan situasi klinis. Mereka yang mendukung pandangan ini berargumen bahwa penemuan dalam bidang ini berpengaruh tidak langsung terhadap kepentingan praktik-praktik keperawatan secara instan semata dan bersifat memperkaya batang tubuh pengetahuan keperawatan (nursing body of knowledge). Penelitian pendidikan keperawatan, administrasi keperawatan, dan layanan-layanan kesehatan adalah keharusan untuk meningkatkan mutu sistem pelayanan kesehatan (health care system) pada umumnya. Selain itu, studi manajemen keperawatan mempengaruhi pengorganisasian dan penyediaan layanan kesehatan.

Penelitian keperawatan menyatukan dua sudut pandang di atas secara simultan. Beranjak dari pandangan ini, penelitian keperawatan didefinisikan sebagai proses ilmiah yang memvalidasi dan menyuling pengetahuan yang ada dan membangun pengetahuan baru baik yang langsung maupun tidak langsung mempengaruhi praktik-prakrik keperawatan (Burns dan Grove, 1993). Oleh karena kehadiran penelitian keperawatan “lebih akhir” dibandingkan dengan penelitian dalam disiplin ilmu yang “lebih tua”, penelitian keperawatan dapat dirumuskan secara sederhana sebagai aplikasi ilmu penelitian ke dalam usaha pembangunan teori dan pengembangan atau perbaikan aplikasi praktis di bidang keperawatan.

This entry was posted in Riset Keperawatan and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>